Wednesday, 10 August 2016

True Story

True story

Tahun ini adalah tahun kedua lebaran tanpa kamu disisiku. Hmm memang kehadiranmu adalah hal yang sangat kuimpikan, tapi mustahil rasanya hal itu akan terjadi. Memang berat rasanya hidup tanpa kasih sayangmu. 

Orang melihatku seperti tidak punya beban, sebenarnya semua senyuman, canda dan tawa adalah caraku menyembunyikan semua derita yang selama ini kuhadapi sendiri. Semua derita ini memang harus kutanggung sendiri karena memang saya tak punya siapa siapa untuk berbagi semua derita ini.. ibu?? Dia hanya sibuk mengurusi tokonya.

Susahnya hidupku dimulai dari sd kelas 3 kedua orang tuaku telah cerai, mereka berdua selalu bertengkar didepan mataku, sambil mengeluarkan kata-kata kotor, lempar sana lempar sini, dan dengan suara yang keras. Mereka bertengkar seakan tak ada saya disitu. Sekolahku jadi berantakan, alpa 1 bulan lebih, dan saya sempat lari dari rumah selama 2 minggu, hal itu mungkin terdengar mustahil bagi anak kelas 3 sd. Tapi itu benar benar terjadi pada saya.

Kelas 3 SD saya telah bisa bicara kotor dari mendengar kata kata orang tuaku, saya merokok, jarang makan, saat itu saya tak mengerti apa yang terjadi pada orang tuaku, sempat saya merasa stress atau depresi. 

Kelas 6 SD, saya berpikir mencoba menyatukan kembali kedua orang tuaku, apapun resiko dan tantangan harus kuhadapi demi kedua orang tuaku. Tapi, saat pulang sekolah saya bukannya diantar di rumah tapi dirumah tanteku, kulihat disana telah berdiri tenda dan banyaknya orang yang hadir diacara itu, seperti sebuah acara pernikahan. Dann... benar mamaku telah menikah dengan orang lain, dan parahnya lagi tanpa memberi tahuku sebelumnya. Saat itu saya berpikir mungkin ini adalah takdir kedua orang tuaku tak bisa bersatu lagi.

Kelas 3 SMP papaku jatuh sakit, selama kurang lebih 3 bulan saya merawatnya. Mulai dari memberinya makan, memandikan, mencuci pakaiannya, dll. Dan sekarang beliau telah meninggal, disitulah titik terberat dalam hidupku, karena semua suka duka telah kita lewati bersama, dan keinginan terbesarku saat itu adalah papaku sembuh dan melihat saya lulus SMP. Tapi, tuhan berkata lain, mungkin ini adalah skenario yang terbaik buat saya. 

Setelah beberapa bulan papaku meninggal, saya berpikir untuk mengakhiri hidup, alasannya adalah karna dari kecil saya sudah hadapi masalah yang begitu besarr, saya sudah merasa inilah satu satunya cara untuk tidak hadapi masalah lagi. 

Bersambung.
(Coming soon part 2)

Sunday, 7 August 2016

Teman atau .......... ??

Teman atau...... ??

Saya punya seorang teman, dia itu orangnya baik dan suka berbagi. Tapi, ada satu sifatnya yang semua orang menjadi tidak menyukainya yaitu, suka menjelek jelekkan orang dan suka meneriaki orang dengan bicara kotor.

Untungnya dia bukan teman sekelasku. Yahh.. dia saya anggap hanya tambah tambah teman saja. Itupun saya cari dia nanti butuh saja :D. Masalahnya, dia menjelek jelekkan kekurangan orang lain sedangkan dirinya lebih banyak kekurangannya daripada orang yang dia jelek jelekkan, aneh luh!!!.

Pernah suatu waktu, disekolah sementara diadakan senam pagi, terus dia datang dan..
Saya : darimana kau?? Tumben lambat..
Dia : kenapa kau tanya tanya saya set*an ihh... kenapa kau yahh??!!
Saya : hama (nama dia), ditanya bae bae kasian.. tebagus sekali mulutmu (nama dia)!!!
Dia : biar saja yah, mulut mulutku ihh...!!!
Saya : ohh iyo dan.
Semenjak itu, saya berpikir mungkin saya pernah berbuat kesalahan atau apa... terus bikin sakit hatinya??. Tapi saya rasa saya tidak melakukan apa apa.

Semenjak itu juga saya mulai menjauh dari (nama dia), saya lihat.. bukan cuman saya yang dijelek jelekkan tapi semua orang yang lewat didepannya juga. Sifatnya juga yang membuat banyak orang menjadi sakit hati padanya, karena kelakuan dan sifatnya yang mirip a**jing.

Beberapa hari yang lalu, dia lewat didepan kelasku dan...
Dia: sudah atur kelas buat 17 agustus kamu??
Saya : belum, masih malas. Eh kamu mau cat kelas??
Dia : iyadong.. sudah ada uangnya, kurang mau dibeli. Kelasnya kamu?
Saya : tau ini, uang kas saja teada dibayar bayar, hahah..
Dia : hahah... eeehhh memang kelasnya kamu tol*re.
Saya : eh santailah mulutmu, dijaga sedikit ee.
Dia : kenapa?? Marah kau an**ng? Berkelahi kita dua? Luas lapangan.. (dengan suara keras)
Saya : (nama dia) itu mulut dijaga sedikit lehh, kau itu laki laki bukan perempuan, dosa kau tau!!!.
Dia : biar... dosaku juga bukan dosamu
Saya : (geleng kepala)...
Itulah yang mempermalaskanku berteman dengan dia.

Baca baik baik ini (nama dia)... mungkin kau senang menjelek jelekkan orang lain dengan kata kotormu, tapi kita juga punya hati dan perasaan, tidak bisa bicara baik baik kah?? Belum diajarkan sopan santun sama orang tua kau ini?? Memang betul semua yang kau ucapakan adalah dosamu.. tapi saya mencoba mengajarkanmu supaya tidak berbuat dosa dari yang kau ucapkan. Percuma dengan badanmu yang besar.. tapi mulutmu membuatmu kecil. Kau laki laki, tapi cerewet, yahh potong saja anumu kasih makan bebek:D

Terima kasih


7-8/16

Saturday, 6 August 2016

Miss daddy

Tanggal 7 bulan oktober 2014 adalah hari terakhir kali kita bertemu didunia.. berat rasanya untuk berpisah denganmu, tapi inilah jalan terbaik dari tuhan untuk kita. Kedepan hari-hariku akan terasa sunyi, sepi, dan tidak akan ada lagi kudapatkan kasih sayangmu.

 Susah dan senang kita lewati bersama walaupun kita tak satu rumah lagi, dari kita tidak makan satu hari, ke makassar naik motor bersama, dll.. hal itulah yang akan kurindukan dan akan ku kenang selamanya, dan tak akan mungkin terjadi kedua kali. 

Semenjak engkau sakit, setiap hari kusempatkan untuk singgah kerumahmu. Hari tiap hari penyakitmu makin parah, kuputuskan untuk libur satu minggu untuk merawatmu. Semua pengobatan telah engkau jalani. Tapi, tak ada satu pun hasilnya memuaskan. Badanmu mulai kurus, dan kulihat engkau selalu menahan rasa sakit dari hadapanku. Saya tak bisa menahan air mata saat melihatmu harus menanggung semua penyakit ini.

Malamnya, engkau memelukku dengan kuat dengan menangis dan mengucapkan sesuatu kata yang tak jelas. Beberapa menit kemudian, saya pamit dari hadapanmu untuk pulang kerumah. Belum berapa lama sampai dirumah, saya ditelfon dia mengatakan engkau telah meninggal, dan saya langsung kerumahmu. Dihadapanku saya melihat engkau telah pergi untuk selamanya, itu adalah rasa yang paling hancur hancur hancur, betapa tidak saya merawatmu selama 3 bulan. Saya berpikir mungkin engkau peluk saya dengan kuat tadi adalah engkau ingin pamit denganku, dan sesuatu yang tak jelas engkau katakan adalah kata perpisahan dan terima kasih kepadaku karna telah merawat engkau selama 3 bulan terakhir.

Air mata tak bisa kubendung saat melihat dirimu yang telah tak bernyawa lagi. Kucium keningmu untuk terakhir kalinya sambil meneteskan air mata. Sampai ketempat peristirahatan terakhirmu saya pun kembali tak bisa menahan air mata. Huhh berat rasanya...

Sekarang kita berbeda dunia, sekarang kita tak akan bertemu lagi, dan sekarang saya hanya bisa mengunjungi makammu dan mendoakanmu agar engkau diterima disisinya, amin.

Ayah saya akan selalu merindukanmu, saya akan selalu merindukan kasih sayangmu dan perhatianmu. Saya akan selalu tegar walau tanpa dirimu, saya akan selalu membanggakanmu. 

Love you so much much much more ayah..
Miss you so much much much more ayah.. 

Alm. Arief abdul gafar